Feeds:
Posts
Comments

So, there rest of the tripwas just a series of a wonderful and relaxing time.

Waiting for the sunset at the beach

The Cliff Diver in his daily ritual: lighting the Tiki lamp

and dive

And the sun set in Maui

The sunset watchers

Mahalo for the good time, and Aloha!

The trip’s main objective is to say our final goodbye to my late father in law (FIL) who passed away a month ago. Maui has always been his favorite place, so my husband’s family decided to make Maui as the place to say our final goodbye to him.

The rest of The LaRocques flew in on Thursday, but since my husband had a conference in Palm Spring that week, we decided to fly in on Friday. And yeah, that was a looooong travel for me: 3.5 hours on the train to Narita plus 6.5 hours on the plane to Honolulu and another 6 hours at Honolulu Intl Airport to wait for our connecting flight to Kalahai Airport in Maui. 2 hours after I landed at Honolulu Intl Airport, my husband finally arrived from LAX, and followed by another tiring check in process at Inter-Island Terminal: first, we had to drag one of our oversized bag to a special drop-in place in the other end of the terminal, only to be told (without further explanation why) that we need a pink tag so we had to drag the bag all the way back to the check in counter area, only to be told that since we’re not flying to the mainland US, we didn’t need the pink tag and we had to drag the bag all the way back to the oversize bag drop in, lol. Yeah, welcome to Honolulu :p

Somebody had to drag his bag back and forth and clearly not happy about it :D

The good news is, it was only a 33 minutes flight from Honolulu to Kalahai, and we managed to make it in time to join the rest of the group for dinner, went to bed for a blissful sleep and all those travellings were totally worth it when you wake up to this:

A morning view from our balcony at Sheraton Maui Resort and Spa. Hello, Maui! :D

We had an early breakfast at 8 since my husband is a golf geek and some of the family member and friends were going to Kapalua Golf Course for some supposed-to-be-friendly golf tournament, but of course, nothing is friendly when the competition hit the LaRocques, :D . Me, I spent the whole morning lying by the pool, went to Whalers Village (which was like, two blocks away from the hotel) for lunch and some shopping with the rest of the family member who dislike golf as much as I do. And it’s life in Maui, baby! :D Life is sooooo hard when you have to decide whether to have fresh baked fish or spicy yummy sushi roll for lunch, oooh, decision decision…. hahaha…:p

 

Before sunset, we went to my parent-in-law’s friend’s house, where the final memorial for my FIL would take place. It was a beautiful house on the cliff, with the breathtakingly beautiful view of the beach, and sea turtles swimming around its beach. It was my FIL’s favorite house in Maui, and a perfect place to say our final goodbye. We were joined by around 30 people, the family’s closest friends who flew all the way from California, and once again, I witnessed how loved my late-FIL was, and indeed, he was an extraordinary man who touched many lives throughout his.

Quite an emotional time for all of us, when we said our last goodbye.

Jackie, Jeff, Joey, and Lynn, getting ready.

Life is indeed, fragile, and as the sun set that day, I realize that sometimes we take things for granted, and I felt the strongest feeling of regret, as I saw the Leis we threw floating toward the ocean and the sky turned dark, in Maui.

 

Goodbye Dad, you will always be in our hearts.

Sebetulnya, saya selalu berniat untuk potret2 setiap saya traveling. Masalahnya, saya nggak terlalu senang difoto atau mungkin terlalu malas buat ingat supaya bawa kamera kemana2. Dan nasib, ketemu suami yang lebih nggak hobi motret atau dipotret. Kalau ingat bawa kamera sih, saya selalu potret2 waktu traveling. Tapi, foto2 yang paling berkesan buat saya justru foto2 yang diambil pakai iPhone, karena biasanya kalau foto pakai iPhone pasti karena ada cerita serunya kaan.

Berhubung saat ini saya lagi bengong di Honolulu Airport nungguin my significant other yang nggak nyampe2 dari LA, saya jadinya iseng deh, blogging ga jelas :D

Nagoya Station, sekitar 2009

Waktu itu abis kongres dan ketemu teman2 dari Jakarta yang datang ke Jepang buat acara yang sama. Senang dong yak, bikin ribut dimana2 sibuk ngobrol ngalor ngidul pake bahasa betawi, namanya udah lama ga ke FKUI, jadi banyak dong aaah, gosip yang mesti diupdate. Nah, malem itu sementara para senior istirahat di kamar hotel masing2, yang masih belum senior, seperti biasa ngelincir malem2 dari mulai nyari HRC Nagoya (buat beli kaos doang hahaha), muter2 pake subway plus acara nyasar, dan nogkrong di cafe sampe midnait. Dan waktu di Nagoya station, kita nemu iklan segede gaban berbentuk sebagai berikut:

Dan patung ini pun sukses bkin kita ngakak2 sampe diliatin orang2 lewat. BTW, saya sih posenya masih sopan, temen saya sih posenya nggak sesopan saya. Bayangin aja sendiri deh, ahahahah…

International AIDS Conference, Vienna, 2010

Jadi, hari kedua kongres, di depan security gate ada orang bagi2 kaos ke semua peserta kongres. Namanya kampanye proteksi AIDS kali ya, ini kaos istimewa karena: itu di sleeve kiri, ada kantong nempel gitu, dari plastik, dan di dalam kantong itu diisi… kondom ahahahahah. Talking about being prepared….

Dan waktu saya pajang ini foto di Facebook, ramailah komentar orang2 yang…. pada pesen! ahahahahah geloo…

 

Halloween 2011

Ini Anpanman bukan profesional performer lho ya, ini temen saya, yang super rajin dan kreatif dan bikin kostum anpanman sendiri. Teman saya ini dokter gigi yang selain praktek, juga masih ngambil PhD di kampus termpat saya kerja. Dan selama seminggu sebelum Halloween, kegiatan dia setiap malam pulang kerja adalah: bikin kostum anpaman. Jadi, itu kepala dibuat dari cardboard yang dia potong2 dan tempel supaya bentuknya bulat, diangin2 semalaman sampai lemnya kering, dicat, terus dihias biar mirip anpaman. Talking about dedication to Halloween. Sementara saya? seperti bisa dilihat, saya muncul dengan kostum sebagai: Ivo ahahahahah. Bilang aja males.

Dan teman saya ini, besok paginya ga datang ke lab gara2 kecapekan semaleman pake kepala anpaman nan berat itu :D

To be continued…

 

Baru selesai kerjaan jam 7.15 PM, shuttle bus udah lewat, mesti nunggu shuttle berikutnya jam 9. Ngok. Daripada kesel mari kita bercerita saja.

Bicara tentang kerjaan, akhir2 ini memang banyak cobaan di tempat kerja. Dari mulai jadwal tinggal di Jepang yang sepertinya harus diextend lagi sampai November *asah golok* sampai experimen2 yang nggak bersahabat sama jadwal saya ngabur: tanggal 30 malem udah mesti ada di airport, dan kiriman Influenza virus baru dateng hari ini. Yang mau bilang masih ada 4 hari antara hari ini dan tanggal 30: here is the flash news: virus itu butuh 4 hari buat dibiak dan diadaptasi. Sekian dan Terima kasih. Wassalam.

Paling nyebelin sih, Jumat kemarin. Sorenya sih enak, jam 4.40 udah nangkring di dalem shuttle, siap2 pulang, begitu nyampe rumah, cek email, ternyata ada bahasan proyek baru aja deh, yang mesti diriset, dibikin papernya, endesbre endesbre, dan selesai jam 4 subuh saja. Blech. Karena kesel, saya pun ngambek, Sabtu pagi ga mau ke lab, hehehe, padahal sih bilang aja kalaupun nggak begadang bakalan males juga kerja, secara Sabtu pagi itu diluar salju turun dengan rajinnya.

So, jam 11, saya pun bangun dengan panik, soalnya, jam 12 ada janjian mau lunch sama temen yang mau pulang for good ke negaranya. Tanpa mandi, cuma pake modal gosok gigi sama lipstik doang, jam 12 kurang 10 saya pun sudah berdiri manis di depan pintu gedung apartemen, nunggu dijemput. Hihi..

Jadi, temen saya yang mau pulang itu adalah orang Mexico. Ketemu pertama di Morioka tahun 2005, seting jalan bareng, sampai akhirnya dia pulang ke Meksiko karena sekolahnya udah selesai, dan sayapun pulang ke Jakarta karena diancem bakal dikeluarin dari sekolah spesialis di jakarta kalo ga pulang :D . Tahun 2006, saya balik ke Jepang dan nggak kepikiran lagi sama Karla, temen Meksiko ini. Sampai pada suatu ketika di tahun 2007 (ini kayak drama radio Brama Kumbara bahasanya :p) saya diundang sama suami istri pensiunan orang Meksiko, Lucia dan Abelardo.

Eh bentar, mau cerita dulu tentang Lucia sama Abelardo ya. Jadi, mereka ini suami istri umur 60an, udah pensiun dan kayaknya tajir setengah mati karena begitu mereka pensiun kerjaan mereka adalah: keliling dunia. 6 bulan di Eropa, 3 bulan di Bali, balik ke Meksiko, trus 6 bulan tinggal di Florida, 6 bulan di Jepang, demikian seterusnya. Pengeeeeeeeeeeen banget kayak gini kalo pensiun! *iya, duit nya dari mane yak* Nah, pas lagi di Jepang ini, mereka suka ngundang mahasiswa kelaperan macem saya, dimasakin masakan Mexico sambil cerita2 di apartemen mereka. Baik ya? :)

Nah, balik ke Karla, waktu ke tempat mereka inilah saya ketemu lagi sama Karla. Dan dari sejak itu saya pun sering jalan atau ngupi2 sama Karla. Sedihnya, dia bakal balik ke Meksiko bulan April, jadilah Karla, saya, teman saya dan Karla yang lain, Mbak Ria and family, berencana maksi di resto Thailand hari Sabtu kemarin. Senaaang, apalagi seperti biasa, makanannya enak2, sampe nambah nasi goreng udang extra, :D

Ki-Ka Belakang: Zachary, Alan. Tengah: Ria, saya (Itu mata saya masih keliatan bengkak abis begadang ya, eeeww). Depan: Karla.

Habis makan, Karla masih harus pergi ke acara perpisahan selanjutnya, Zachary minta dianter ke rumah temennya, Alan dianter ke kampus (dia ini professor Bahasa Inggris di Iwate Uni) dan saya sama Mbak Ria ke…Mall haha…

Pulang dari belanja grocery di supermarket di Mall Aeon yang menghasilkan juga satu pasang anting2, saya pulang, naro belanjaan di kulkas dan langsung pergi lagi buat ketemuan sama teman saya Annie, yang sedang kedatangan ibu dan tantenya dari Inggris. Ternyata, yang datang banyak juga, ada 9 orang termasuk Annie dan Ibu/tantenya. Selesai makan malem, kita ajak Ibu dan Tantenya Annie (yang umurnya udah 80 tahun-an) ke… Photo Box! hahaha. Saya sampe mikir, eh, kita kualat nggak ya, ngajak orang tua foto2 di Foto Box hahahah. Dan dengan sukses, 9 orang ini pun masuk ke dalem Foto Box yang sempit dan nggak usah cerita lah gimana hebohnya, hahahah. Foto menyusul, mesti minta dulu sama yang bawa kamera :D . Habis dari foto box, saya pun pamit karena teler berat…zzzzzz…..

Hari Minggu, beres2 rumah, packing, dan, tiduuur :D

Minggu ini acaranya: kerja, kerja, kerja. Blech. Hari ini sudah bisa dipastikan baru bakal sampe rumah jam 10. Selasa, Rabu, Kamis: kerja juga (Bos Prof kongres ke Nagasaki dari Selasa sampai Kamis, horeeee, saya berarti bisa pulang cepet! :D . Nah, Jumat tadinya udah mau bolos aja dari pagi, toh siangnya kan udah mesti ke Narita. Tapi, Bos Prof mau ketemu dulu Jumat pagi. padahal, saya udah ngeles jam 12 mesti udah cao ke Tokyo, dan beliau dengan kalemnya bilang, OK, kalo gitu kita meeting nya di kampus Uchimaru aja, jam 9 sampai jam 11. *Lemes*

Yasudahlah, akhirnya tiket pun diundur ke Jam 13.40, biar abis meeting bisa maksi dulu sama Mbak Ria, baru ke stasiun. Jadinya  dari Tokyo mesti langsung ke Narita deh, ga bisa mampir minum milkshake di Marunouchi. Payah.

Dan semoga semua sesuai jadwal, ga ada delay2. Amiiiin.

Demikian cerita nggak penting hari ini.

Tentang LDR

Kalau dihitung-hitung, dari sejak sebelum menikah sampai sesudah menikah, saya dan mantan pacar alias suami alias my significant other nggak pernah tinggal satu kota. Waktu mantan pacar masih tinggal di Jepang, kami tinggal di beda prefecture saja begitu, meskipun masih sama2 di Jepang utara. Alhasil, ketemu paling cuma hari Minggu, dan selebihnya skype saja. Tapi, seenggaknya, waktu itu nggak ada beda waktu, jadi jam ngobrol per skype masih jam-jam waras :p. Plus, karena kita masih tinggal di pulau yang sama, jadi ongkos ketemuan cuma bikin buku bank nangis, nggak sampai bikin buku bank ngancem mau harakiri.

Sejak beberapa bulan sebelum nikah, mantan pacar dengan kejamnya ditarik balik ke negara asalnya (dengan beda waktu 19 jam saja, saudara2..). Nah, mulai terasa deh, hal-hal yang dulunya dibuat jadi omelan seperti ongkos shinkansen (bullet train) yang mahal, bensin mahal dll, ternyata nggak ada apa2nya dibanding tiket pesawat (ya iyalah…), PLUS, berhubung saya tinggal di utaraaaa kalau mau terbang nggak bisa langsung ngesot ke bandara. Hitungannya: 2 jam 20 menit Morioka-Tokyo (Morioka-Tokyo kurleb jaraknya sama sama Jakarta-Semarang) naik shinkansen, plus 1 jam Tokyo-Narita naik kereta express. Ongkos: nggak usah ditanya deh, bikin sakit hatiii.

Setelah menikah, berdasarkan hasil musyawarah dan mufakat, ternyata kesimpulannya saya yang harus pindah ke Honolulu, karena bos-bos saya lebih baik hati dari bos-bos mantan pacar saya dibolehin kerja dari dari Honolulu most of the year, dan cuma perlu ada di Jepang cukup dua bulan dalam satu tahun plus satu kali kunjungan ke Bandung per tahun sajah. Horeee!!

Tapiiiii ternyata proses pindah ini tak semulus yang kita perkirakan. Dari rencana pindah bulan Maret 2012, mundur ke Juni 2012, dan seakrang terpaksa mundur lagi ke Oktober 2012!!!! (bikin kuping berasap nggak sih??). Tapi mau gimana lagi, saya cuma bisa berdoa semoga saya nggak dicerai jadwal ini nggak mundur lagi Amiiiiiiinnnnnn!!!. Efek baiknya, bos saya super baik hati kalau ngasih libur, karena ngerasa salah sama saya plus mantan pacar eheheheh, jadinya selama periode Januari-April aja saya sudah terhitung libur 18 hari, plus akhir Maret saya libur lagi 10 hari, horeeee!!!. Dan untungnya, mantan pacar super suportif dan pengertian, jadi saya nggak sendirian berjuang (jyaaaahhhh lebay hahahah) supaya meskipun LDR, tapi kita berdua masih dekat di hati (dooh, bahasanyaaa…:D)

Jadi, apa saja usaha untuk bikin supaya LDR ini nggak bikin (terlalu) bete:

1. Masalah Kerja: saya selalu cerita ke mantan pacar tentang pekerjaan saya, proyek2, dan semua hal yang terkait dengan masalah kerja saya, selama bukan data confidential. Jadi, suami pun lebih gampang untuk support saya termasuk extension-extension durjana itu, karena dia paham, magnitude dan alasan kenapa saya harus kerja apa dan dari mana. Terus terang, ini yang buat beban saya lebih ringan dan yang bisa mencegah saya supaya nggak nyekek leher salah satu peserta meeting setiap kita meeting timeline dan diputuskan kalau masa tinggal saya disini harus diperpanjang.

2. Nabung waktu plus dana. Setiap ada kerjaan, saya berusaha supaya selesai cepet meskipun itu artinya saya harus lembur atau kerja pas weekend. Jadi, giliran ada waktu dimana saya nggak mesti ngapa2in, saya bisa kabur sejenak. Dan dengan perencanaan yang tepat, biasanya waktu luang ini bisa diklopin sama periode low season, tiket muraaaah! :D Nah masalah dana, ini yang bikin puyeng. Jadinya, kita berdua nabung senabung2nya, puasa beli tas/sepatu/dan godaan2 syoping lainnya, jarang2 main ke karaoke, nongkrong di toko yang bagi2 kopi gratisan biar ga usah ke starbucks dll dll, biar bisa beli tiket. Dan tetep aja ya bok, ga bisa sering2 juga…hikksss….

3. Pemanfaatan Biz trip. Jadi, tiap mantan pacar harus biz trip ke Korea/Guam/Okinawa, dia selalu cari flight yang harus transit di Tokyo, ambil cuti sehari biar bisa long weekend di Tokyo, dan sayapun nyamperin ke Tokyo, atau dia nyamperin ke Morioka. Lumayan, pernah dalam satu bulan bisa tiap weekend ketemu. Sesuatu banget deh, ini… :D . Sayangnya, kalo ke Jakarta, ga bisa ya, transit di Honolulu? #eeaaa haha… Eh, pernah ya, saking maksanya ketemu, akhir taun lalu mantan pacar transitnya cuma bisa semalem, dan kebetulan saya memang ada perlu ke Tokyo. Alhasil, dalam rangka maksa mau ketemu, saya pun nyusul ke Haneda dan kitapun nginep semalem di hotel di dalam airport Haneda, dan selama 24 jam itu asli kita cuma muter2 dalam airport Haneda sajaa haha… (untung airportnya bagus dan banyak yang bisa diliat, whew..)

4. Skype. Skype. Skype. Saya mau sun tangan sama Skype inventor. Penyelamat dunia akhirat beneran deh :p

5. Penyesuaian waktu. Namanya ada beda waktu, jadi mesti pinter2 atur waktu. Misalnya Sabtu di saya, masih Jumat di tempat suami. Jadi, masalah grocery, ketemu temen, main, kerja extra, saya tumpuk di hari Sabtu. Hari Minggu saya bisa leyeh2 seharian di rumah, ngobrol via skype sampe bingung ga ada lagi yang mesti diceritain, dan akhirnya kita pun masing2 sibuk sendiri2, masak, bersih2 rumah dll, dan skype nyala terus. Jadi, kalau ada yang mau ditanya tinggal teriak. Lumayan, serasa nggak sendirian di rumah :p

6. Percaya. Ini sih nggak cuma LDR kali ya, percaya sama pasangan pastinya perlu mau LDR ataupun nggak. Saya memang orang yang nggak suka kebanyakan nanya/ditanya seperti: ‘I am going out with Pete tonight, I’ll be home by 7 your time’ –> saya nggak akan tanya siapa itu Pete, dll dll, soalnya, prinsip saya, kalau dia mau cerita ya cerita aja. Vice versa. Dan biasanya sih, kita cerita sendiri tentang siapa temen kita, mau pergi kemana, pas memang waktunya kita cerita. Dan buat saya, percaya = peace of mind. Lagian, kalo mau macem2, ga usah LDR, serumah aja kalo mau ngaco ya ngaco aja kalii hahah.

Dan terakhir, banyak doa, hehe. Doa semoga bisa cepet bareng, semoga nggak ada lagi extend-extend an, semoga urusan imigrasi cepet selesai, semoga semua experimen lancar terus, dan ga perlu ada siklus yang diulang, semoga gaji taun ini naik #eh haha..

Karena, seseru apapun LDR, it sucks! :D

Pemandangan malam dari Haneda Sky Walk (depan restoran steak enak) not bad, eh? :p

Picture taken from here

Written on: March 15, 2012 — 14 days before my next getaway to Maui! :D

This might be my attempt to adjust to the idea about making Honolulu my future home. I am not thrilled with the high tax, rent, etc, but as they said: home is a place where your heart is. Since my ‘heart’ has to reside in Honolulu at the moment, so, Honolulu it is…

And of course, here are the good things about Honolulu:

 Waikiki beach walk, the beautifully lined boutique and stores, and how gorgeous it is in the evening, with the tiki lamps.

An afternoon picnic at Magic Lagoon Island

Watching sunset at Magic Lagoon Island

Evening walk in Waikiki

Waikiki sunset

All kinds of blue colors

And the rainbows.. :)

Albert Pike wrote: ‘What we have done for ourselves alone, dies with us; what we have done for others and the world, remains and is immortal’

My first impression of Mike LaRocque was of how intimidating he was, from his posture, and what I heard about his success and achievements (a successful businessman, former member of US Marine Corps, a combat soldier with two purple heart medals among other honors, no less), and his bravery; how could one not be intimidated by him? I wanted him to approve of me so much as he was the father of my future husband.

Later that day, the day I first met him, my impression changed to, how could one not love him? Indeed my then-fiancée was right – despite any first impression one might get from him, he had the biggest heart in the world. I will never forget that day, the day I saw the pure sincerity, when he welcomed me to the family.

I learned about Mike LaRocque from my husband. Some of the many virtues I admire so much in my husband are his strength, his resilience, and his independence. Not only does my husband have those virtues, but he also taught me how to be strong, to be resilient, and to be brave. I became a better and stronger person in the 5 years we’ve known each other.  And today, I realize I owe it to Mike LaRocque.

Mike raised my husband to be the man he is, and beyond that, he taught him in a way that my husband understands that Mike LaRocque’s virtues of strength, resilience, independence, loyalty, and unconditional love, are to be taught to others. It is his legacy. A valuable legacy, worth more than any precious object in this world. It is a legacy that will be passed by his family and friends long after he’s gone. Because that is just the way Mike Larocque is, for his family and his friends.

We might say our goodbyes to Mike LaRocque today, but his legacy will continue to live, among his family, his friends, his children, and his future grandchildren.

Your proud daughter in law,

Ivo

The LaRocque Family

 

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.