Tentang Akad Nikah-Bagian 2

Sesuai cerita sebelumnya, persiapan akad sebagian besar memang perannya si Kue Pancong Fanny, berhubung saya baru pulang 3 hari sebelum hari HšŸ˜€. Tanggal pun disesuaikan dengan jadwal dinas saya ke Indonesia dengan alasan irit hemat waktu. Sebetulnya waktu itu secara hukum kita sudah terdaftar pernikahannya. Jadi, ceritanya begini:

Setelah lebih dari satu tahun maju mundur karena papap sama mamah yang masih ragu punya menantu yang nggak bisa diajak ngobrol pake bahasa Sunda :p, sayapun jadi ikutan maju mundur (gimana dong, namanya juga sayang orang tua, hehe), dan sempet mikir, emang penting ya, punya suami? Jadi perempuan kan harus mandiri, punya pendamping nggak penting (minta dikemplang orang Ā sekampung). Di pihak lain, sebetulnya saya cukup yakin kalau KJ is the one for nowĀ :D, cuma ya itu, saya mungkin masih bingung dengan amsalah prioritas hidup. Dan apakah berkeluarga memang prioritas utama. Sampai…Jepang dilanda gempa besar diikuti tsunami (dan mati listrik hampir tiga hari), dan lokasinya nggak tanggung2, di tempat saya tinggal #kyaaaaaa!!!. Tiga hari dilanda musibah dan mengalami sendiri dahsyatnya bencana, akhirnya bikin saya berfikir, umur itu ternyata betul-betul rahasia Tuhan, dan ujung-ujungnya, saya pun terpaksa mengatur ulang apa prioritas hidup saya.

Akhirnya setelah berdoa semalam suntuk saya pun bicara lagi sama mamah/papap, dan setelah diskusi panjang lebar, akhirnya papap setuju dengan syarat, harus papap yang menikahkan saya (ya iyalah papap teh kumaha damang, masa dinikahin sama Abah ucup?, dari dulu juga saya mah maunya papap aja yang nikahin), dan akad dalam bahasa Indonesia. Sebetulnya dari dulu memang kita juga maunya begitu, jadi setelah klop, tanggal pun ditentukan September, waktu saya memang harus dinas ke Indonesia. Hore!

KJ yang waktu itu memang udah pindah sejak beberapa bulan sebelumnya ke Honolulu (sampai sekarang, terus terang saya masih belum percaya kalau dia ditugaskan di Honolulu. ha! siapa juga yang mau percaya ada orang KERJA non-pariwisata di Honolulu. kesana mah buat liburan kali…) langsung setuju dan bilang iya ke semua syarat papap (luv you hunny!).

Dan timbulah implikasi2 super ribet lainnya: dimana kita bisa mendaftarkan nikah? bagaimana dengan keluarga KJ?

Akhirnya, setelah menimbang dari segi praktis dan kemampulaksanaan, diputuskan bahwa: pendaftaran nikah secara legal dilakukan di US saja, lalu didaftarkan di KBRI Tokyo, lanjut KUA Sukabumi. Akad nikah di Sukabumi, tapi berhubung keluarga KJ banyak dan nggak semua bisa datang ke Indonesia (dan Mom, my MIL kekeh minta ada wedding party juga di California), jadi yang datang ke akad cuma Mom, dan ngunduh mantu diadakan dalam bentuk Garden Party (DIY, yay!) di California. *lap keringet* kenapa jadi ribet begini ya?

Jadi, beginilah cerita akadnya:

1. H-6, Minggu, Morioka

packing. packing. packing. Dan ternyata, sarung dan selop untuk acara akad tidak bisa saya selipkan di koper yang sudah penuh dengan baju kerja, materi mengajar (karena setelah akad saya harus kerja di bandung, dilanjut mendampingi mahasiswa dari Jepang yang akan kunjungan ke UI dan Udayana). Karena saya malas bawa koper lebih besar (ditambah memang nggak punya, haha..) akhirnya sarung, selop dan aksesorisnya saya masukkan ke overnight bag dan rencananya saya tenteng. whew!

2. H-4, Selasa, Tokyo

Setelah malamnya tiba di Tokyo, pagi saya pun berangkat ke KBRI di Meguro. Alhamdulillah, administrasi legalisasi akte nikah dll lancaar. Ini juga ceritanya panjang. jadi, saya baru tahu kalau meskipun akte dalam bahasa Inggris dan yang melegalisasi KBRI, tetapi tetap harus ada terjemahan resmi bahasa Jepang. Waaaaa!!!! Untungnya, saya punya teman2 baik hati Jason dan Akira yang dengan rela hati diburu2 mengerjakan terjemahan resmi akte nikah ke bahasa Jepang (love them!).

Selasa pagi, akte dan terjemahan pun diterima dengan baik oleh bapak tidak ramah (yang pernah urusan sama KBRI Tokyo pasti tau si bapak ini hahahah, petugas KBRI lain sih baik2 kok, cuma bapak Jepang ini aja yang rada aneh..gomen ne, doumo. hehe). Sambil nunggu legalisasi yang baru selesai jam 3 sore, sayapun ketemu dengan teman Mbak Elok Nordeng dan babynya Isabel. Senangnyaaaa! Tak terasa, kita ngobrol (dan menjajah satu pojok Starbucks) selama hampir lima jam sajaaah hahaha sampe diliatin dengan sebal sama Mbak2 di sebelah kita (mungkin dia pikir ini orang udah ngbrolnya lama, bahasanya nggak ngerti pula ahahahah). Setelah dadah2 sama Mbak Elok, sayapun kembali ke KBRI, dan legalisasi pun selesai. Alhamdulillah.. *sujud syukur*. Selesai legalisasi, saya pun melipirlah ke gedung KBRI utama buat ketemu Dini (staf KBRI yang cantik dan baik hati) dam mamanya, dan berhubung masih dalam suasana Lebaran, saya pun dibekali kue lebaran sama mamanya Dini eheheheh.

Selesai ketemu Dini, saya yang rupanya hobi sekali ketemu teman dan ngobrol (baru tau yeee) melanjutkan janjian ketemu hari itu buat ketemu teman lain Mbak Dian Akhtar, di…. atas kereta dong ahahahah. karena saya telat sampe Tokyo Station, akhirnya kitapun SMSan dan janjian ketemu di dalam kereta saja begitu, dan this is the recipe for disaster ya, soalnya waktu itu Tokyo rush hour (pusing nggak sih?) Dan saya pun…. salah naik kereta! Akhirnya, setelah SMS2an intensif, Mbak Dian dengan rela hati turun di salah satu stasiun, dan saya pun turun di stasiun yang sama dan tanpa peduli sama Tokyo Salarymen/women di sekitar kita, kita pun ketawa nggak berhenti2 sambil nunggu kereta berikutnya.

Meskipun hectic, hari itu saya senang sekali ketemu teman2 yang selalu mensupport saya dan menjelang tengah malam, sayapun diantar suami Mbak Dian (arigatou Saeed!) ke hotel saya di Narita.

Dan malam itu pula, saya baru sadar, kalau tas saya yang berisi sarung selop dll untuk akad, tertinggal di Morioka. Wassalam.

3. H-3, Narita-HongKong-Jakarta

Alhamdulillah lancar, transit pun lancar sambil belanja dikit di HKIA (tetep, hehe…). Sampai Jakarta dijemput Teh Dewi, langsung ke Jatibening

4. H-2, CGK-Sukabumi

Pagi, sopir papap udah nongkrong di Jatibening, dan saya pun sambil ngantuk2 berangkat balik ke CGK buat jemput KJ dan Mom. Mereka masing2 berangkat dari Honolulu (KJ) dan LA (Mom), ketemu di Tokyo, trus ke changi, dan nyambung ke JKT. FYI, Mom ini udah 70 tahun, dan demi saya mantu nggak tau diri ini, Mom rela terbang plus transit2 selama 23 jam *terharu* *sungkem*

5. H-1 Sukabumi

Udah nggak bisa cerita, nervous habisssss, Alhamdulillah, ketemu petugas KUA, lancar. Dan malemnya, neng Panny dateng dari Bandung daaaan ngomel gara2 saya yang diwanti2 buat nyobain kebaya begitu sampai Sukabumi, kelupaan. Dan…. ternyata kebayanya kebesaran aja! Ngok! ahahahah. Dan adik saya yang cerewet tapi baik hati ini pun malem2 nyupirin saya ke temennya mamah yang punya butik buat ngecilin kebaya. eheheheh

6. D day

Pagi, saya mulai dandan, dan setelah masalah sarung terselesaikan (pinjem punya kakak, :p) ternyata berhubung kaki saya besarĀ berukuran khusus, nggak ada selop yang muat boooo! Dan saya pun dengan cuek pakai sepatu kerja yang nyaman tapi uzur. Sepupu2 dan para teman dekat yang pagi itu menemani saya siap2 pun protes keras dengan penampakan sepatu saya yang super uzur. Dan, dengan kerelaan hati Mbak Maya (love you to death,! Mwah!) my dearest dearest friend, akhirnya kita pun tukeran sepatu ahahahahah, jadi, selama acara, kaki saya mendadak cantik pakai selop perak elegan (instead of sepatu uzur). Dan bullying pun belum berakhir saudara2! Temans dan Sepupus yang pagi itu hobi sekali komplain tentang cueknya saya pun akhirnya punya kesempatan buat membully saya dan memakaikan stagen, maskara tambahan, dll dll, dan di tengah penyiksaan itu, diam2 saya pengen nangis, I have the best friends and family!

Apa kabar KJ? Lita, kakak saya nomor 4 masuk kamar sambik ketawa2. Rupanya dia baru dapat telepon dari teh Dietje (kakak saya tertua) yang tugasnya mengurusi KJ dan Mom di rumahnya, dan Teh Dietje cerita kalau pagi itu KJ sedang super nervous (ya iyalahhh, kalau nggak nervous saya yang protes! hehe), dan bilang ke Kang Andi (suami Teh Dietje), kalau dia takut salah melafadzkan ijab dari ‘saya terima nikahnya…’ menjadi ‘saya terima kasih…’ karena terima kasih adalah salah satu kalimat bahasa Indonesia pertama yang dia ingat. ahahahahah. Teh Dietje dan Kang Andi (being themselves) bukannya nenangin, malah ketawa besaaaar.

Alhamdulillah, setelah semua cerita kacau seru yang terjadi, acara selanjutnya lancar, dan KJ pun melafadzkan ijabnya dengan lancar *sujud syukur* meskipun semalam sebelumnya dia diprotes habis2an sama ipar2 saya berhubung dia ngotot mau melafadzkan ijabnya tanpa membaca (sok tau emang, dia…). Ipar2 saya bilang, merekapun yang Indonesia asli semua baca waktu ijab kabul, tapi dengan alasan KJ ingin papap yakin sama niatnya, dia mau melafadzkan ijabnya sambil liat mata papap. saya pun mewek…

Mudah2an demikian adanya. Amin…

Berikut montage buatan Reka, yang bikin saya mewek tiap liat…

Sekian.

Sampai ketemu di cerita Garden Party di CaliforniašŸ™‚

2 thoughts on “Tentang Akad Nikah-Bagian 2

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s